Minggu, 18 November 2012

BUDIDAYA LEBAH MADU APIS CERANA



Lebah Lokal Jawa
Apis cerana merupakan jenis lebah madu local yang ada di Jawa. Selain cerana, juga terdapat lebah madu hutan (apis dorsata) atau di daeerah saya dikenal dengan nama tawon gung (lebah besar). Tawon gung hingga saat ini belum bisa ditangkarkan, mereka hidup liar di wilayah yang banyak pepohonan (hutan) seperti wilayah karanganyar sebelah selatan (Lolong, dll), Lebak Barang dan berbagai daerah lain yang masih terdapat kawasan hutan tropisnya.
Apis cerana cenderung lebih tersebat. Hampir setiap daerah terdapat lebah ini yang masih liar (belum ditangkarkan). Di RT saya sendiri terdapat 3 koloni liar yang hidup di lubang kayu glugu (kelapa) dan sebagian lagi menempati kotak yang secara tidak sengaja ditempat lebah apis cerana. Keberadaan lebah liar menunjukkan terdapatnya sumber makanan, sehingga lebah tersebut bisa berkembang. Aktivitas koloni liar yang saya amati menunjukkan lalu lintas keluar masuk sarang yang cukup tinggi. Ini menunjukkan ketersediaan sumber makanan yang berlimpah. Hingga saat ini, masih belum ada yang berinisiatif mengambil madu dari lebah liar yang ada di batang pohon kelapa (glugu) karena lobangnya yang dalam mengarah keatas sehingga sulit untuk mengambilnya.
Sebenarnya lebah ini masih cukup prospektif untuk dibudidayakan, meskipun produktivitasnya tidak begitu tinggi (5-10 kg per tahun). Akan tetapi, bila jumlah koloni yang dibiakkan lebih dari 50 kotak koloni, nilai 5-10 kg menjadi 250-500 kg. Jumlah yang cukup menggiurkan. Di beberapa tempat (Gresik dan Madura)  seringkali ada orang yang mencari madu liar, dan mereka berani menghargai 200.000 untuk 1 botol kecap 700ml, atau mungkin setara dengan 1 kg madu. Nah bisa dibayangkan bila per kg mampu tejual dengan harga separuhnya (Rp100.000/kg), bisa menjadi penghasilan tambahan yang cukup lumayan, tanpa harus memberi pakan dan membersihkan kandang sebagaimaa kita memeliahara burung, kucing, anjing, dan piaraan lainnya. Melalui pembudidayaan yang intensf, jumlah koloni sebesar 100 kotak tidaklah sulit. Saat musim bunga berlimpah (awal musim kemarau hingga awal musim penghujan), jumlah koloni sangatlah berlimpah. Biasanya saat-saat tersebut digunakan para pelebah professional untuk menggandakan koloni melalui rekayasa pembuatan ratu baru dan pemecahan koloni.
Perkebunan dan Tanaman Rakyat, sebuah potensi yang belum dioptimalkan
Bagi masyarakat di wilayah Pekalongan selatan, masih banyak terdapat hutan yang dikelola swasta maupun yang dikelola dinas perhutanan. Tanaman hutan yang dikelola oleh dinas perhutanan antara lain : karet, pinus dan kopi dengan areal yang sangat luas. Sedangkan yang dikelola swasta antara lain perkebunan teh dan kakao. Sedangkan untuk masyarakat yang mempunyai lahan yang cukup luas dimanfaatkan untuk perkebunana kopi, cengkeh, durian, rambutan. Keberadaaan kawasan hutan tersebut sangat potensial dalam penyediaan sumber pakan lebah.
Sedangkan untuk daerah yang tidak dekat perkebunan pemerintah maupun rakyat, masih banyak tanaman yang sengaja dibudidayakan yang juga merupakan sumber pakan lebah. Setiap masyarakat mempunyai tanaman buah seperti mangga, jambu air, jeruk. Juga terdapat tanaman hias untuk mempercantik rumah yang mempunyai bunga, tanaman pagar, tanaman perdu di sekitar kebun yang dimiliki. Di beberapa daerah mempunyai sungai, yang mana daerah sekitar aliran sungai dapat dioptimalkan untuk menanam tumbuhan tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya lebah madu, diambil kayu bakarnya dan pencegah erosi seperti kaliandra. Hamper semua tanaman komoditas pertanian yang berbunga merupakan sumber pakan bagi lebah seperti padi dan jagung, kacang-kacangan, terong, tomat dll. Tanaman kelapa juga ada dimana2, pisang merupakan sumber nectar bagi lebah. Artinya, dimana pun kita berada masih cukup berlimpah sumber pakan lebah. Apalagi dengan intervensi melalui penanaman pepohonan tertentu bagi lahan-lahan tidur. 


Metode budidaya yang intensif
Saat ini di daerah saya belum ada orang mencoba untuk menangkar lebah liar disekitar kita untuk dibudidayakan secara intensif. Padahal untuk melakukan hal ini bukanlah hal yang sulit. Kita hanya butuh keberanian untuk menangkap koloni liar kemudian kita tangkar dalam kotak tertentu. Untuk memudahkan dalam memecah koloni, kita perlu membagi layar (sarang telur) dalam bentuk frame, sehingga kita bisa dengan mudah untuk memindahkan frame ke kotak2 lebah yang lain. Saya kira model yang paling sederhana, bisa dengan menggunakan satu kotak panjang, dimana kotak di skat menjadi dua bagian, satu bagian untuk sarang telur dan bagian yang lain untuk sarang deposit madu. Model ini biasa diaplikasikan di daerah Afrika.
Gambar diatas adalah contoh disain gambar kotak lebah tipe memanjang, yang perlu disesuaikan dengan tipe lebah cerana. Sumber asli adalah disain untuk lebah jenis melifera, dengan ukuran lebar sekitar 40 cm, panjang sekitar 80 cm, dan tinggi sekitar 30 cm. Lebah cerana membutuhkan ruang yang lebih sempit. Ukuran diatas bisa dimodifikasi menjadi lebar 30 cm, tinggi 25 cm, dan panjang cukup 50 atau 60 cm. Ukuran tebal kayu penutup sekitar 2.5 cm sebagai tempat dimana lebah cerana menempelkan sarangnya. Jumlah sarang untuk telur sekitar 8, dan sarang untuk madu sekitar 10, jadi kebutuhan panjang sekitar 2.5 x 20 kurang lebih panjang nya 50 cm.
Skat berfungsi untuk memisahkan antara layar/sarang telur dimana ada ratunya, dengan sarang untuk deposit madu. Hal juga berfungsi untuk memudahkan saat memanen madu, tidak akan mengganggu sarang dimana ratu ada. Dengan cara seperti ini, memungkinkan saat memanen madu, sarang tidak bercampur dengan telur atau larva, sehingga madu yang dihasilkan lebih bersih dan higienes. Cara mengkonsumsi madunya pun bisa dengan sekaligus sarangnya, karena sarang sudah bersih dari larva dan telur.

1 komentar:

  1. Belum tau cara bkin kandang.a . . Tmpat aku ada lebah yg masuk kotak

    BalasHapus