berdasarkan hasil penelitian di Universitas Mullawarman, dapat di temukan 9 jenis spesies trigona yang antara lain sebagai berikut
Dari 9 jenis spesies tersebut, tentunya masih banyak lagi yag mungkin akan ditemui spesies trigona di daerah lain di Indonesia. Untuk sementara yang saya sebutkan adalah bersumber dari riset di Kalimantan. Akan tetapi dengan 9 jenis ini, boleh dikatakan bisa dikembangkan ke dalam skala komersial melalui pemuliaan dan budidaya.
Saat ini saya sudah mempunyai 1 koloni T. Carbonaria, dan jenis lain yang biasa di piara di bambu oleh penduduk lokal di daerah saya. Kedua spesies ini sama persis bentuknya, hanya saja yang membedakan adalah ukurannya yang 3-4 kali lebih besar. Spesies lain yang kira-kira sama besarnya (hampir sama) dengan T.Carbonaria akan tetapi warnanya lebih terang (orange kecoklatan) yang mungkin salah satu dari spesies yang saya sebutkan diatas. Saya tidak bisa menyebutkan, karena saya belum pernah melihat ukuran sebenarnya.
Nah, dengan beragam yang kita punya spesies trigona sp, memungkinkan untuk mengupayakan menjadi skala komersial dan berpotensi bisnis. Riset tentang prilaku trigona, siklus hidup, foraging, lanscaping, masih perlu dikembangkan untuk bisa mengopitmalkan potensi lahan terbatas kita untuk meningkatkan kesejahteraan. Nah...PR buat kita semua, terutama bagi para peneliti, perlu lah kiranya hasil penelitian di publikasikan secara umum, agar lebih bermanfaat bagi khalayak lain, sebagaimana yang telah dipublikasikan oleh peneliti lain di negara di luar sana (brasil, eropa, amerika, dll)
Tampilkan postingan dengan label trigona sp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trigona sp. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 November 2012
Sabtu, 13 Oktober 2012
Koloni Klanceng Pertama ku
Lebah trigona sp
Lebah trigona atau sering disebut stingless bee, lebah
klanceng (jawa), terdiri banyak jenis. Salah satu jenis yang paling dikenal
adalah nano trigona hitam yang biasa hidum di dalam bamboo yang telah kering
dan berlobang. Bentuk lebah ini hitam, dan tak bersengat. Jenis lain yang sama
peris bentuknya dengan lebah klanceng tersebut adalah trigona carboniora yang
mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar. Panjang lebah ini kira-kira 5-6 mm,
dengan ukuran tubuh 3-4 kali lebah trigona nano. Spesies ini ada di Indonesia,
dan baru2 ini saya mendapatkan dari hutan di wilayah Pekalongan. Lebah ini
biasanya hidup di batang pohon yang berongga dan berukuran cukup besar
(diameter diatas 25 cm).
Saya telah memulai untuk menangkar satu koloni tersebut
untuk dapat dikembangkan secara intensif. Hasil pengamatan selama 5 hari paska
instalasi menunjukkan kondisi yang menggembirakan. Aktivitas yang sangat tinggi
ditunjukkan dengan lalu lintas lebah yang keluar masuk sarang sangat tinggi
dengan membawa propolis atau pollen (kedua jenis benda ini bisa dilihat di kaki
belakang trigona saat kembali ke sarang). Mulut/pintu masuk telah dibangun
mereka dengan menambah propolis sehingga bentuknya menonjol. Hal ini mudah2an
mengindikasikan kalo koloni sudah berniat membangun dan mengembangkan sarang
yang permanen pada tempat yang saya rekayasa (penambahan bentuk kotak di kayu
log sarang aslinya).
Sebenarnya masih ada beberapa jenis trigona yang sangat
potensial untuk dikembangkan seperti melipona scutelaris (kalo di internet
biasanya banyak di ekspose oleh peternak brazil) karena kantong madunya yang
besar dan terpisah dengan telur. Akan tetapi saya belum sempat menemukan koloni
ini di daerah saya, meskipun saat saya mengamati lebah2 yang datang di bunga2
di depan rumah, jenis yang identik dengan spesies tersebut tampak hadir mencari
nectar atau pollen. Yang sering tampak di lingkungan daerah saya adalah jenis
nano trigona yang sangat kecil, dan relatif sulit untuk memanen madunya karena
tata letak telur, pollen dan madu tidak se teratur lebah trigona lain yang
lebih besar.
Langganan:
Postingan (Atom)







